Oleh : Al-Madaliyatul Asatidz
(Ashfi Hani, Pipit
Aulia, Winda Murnia,
Rizka Amelia, Ika Luthfiah, M.
Heri Alfiyanto, Hadi Muhaimin, Indah Fitriani, Uswatun
Haniah).
a.
Rintihan
Sang Penghuni Air
 |
| Gambar. 1. By: (*) |
Air
sebagai
salah
satu
sumber
kehidupan,
kini
bak
kubangan
yang
menjijikan.
Tak
lagi
didiami
oleh
para
spesies
hewan,
namun
juga
berbagai
limbah
bahkan
kotoran
manusia
pun
dapat
ditemukan.
Sungguh
ironis,
namun
inilah
faktanya.
Yang lebih mencengangkan lagi,
hal ini justru
banyak dilakukan oleh kalangan “berada”
dan “terpelajar”. Hal
ini menembah daftar
panjang efek negative
perilaku masyarakat yang
dikira tidak berpengaruh,
diantaranya :
1.
Ketidakseimbangan ekosisitem
2.
Sampah menumpuk
3.
Aliran
air tersumbat
4.
Berbau tidak sedap
5.
Air
kotor (tidak jernih)
6.
Air tidak dapat dikonsumsi
7.
Ikan enggan tinggal
8.
Ganggang sulit ditemukan,
bahkan hilang
9.
Banyak lalat, ulat,
dan belatung
10.
Tidak terdapat rumput
di sekitarnya
Apa yang mereka lakukan
bukannya tanpa alasan.
Ada beberapa faktor
penyebabnya, yakni :
1.
Dinilai lebih praktis
2.
Kebiasaan
3.
Tidak adanya hukum
yang mengikat dari pemerintah desa
4.
Tidak adanya sosialisasi
tentang akibat dan bagaimana cara menyikapinya (solusi)
dari kebiasaan ini.
Akhirnya bumi semakin rusak oleh tangan-tangan
manusia yang tanpa henti dalam merusaknya. Walaupun
bersifat “sementara”, tindakan
yang dapat Kita
lakukan adalah :
1.
Adanya hukum
yang
mengikat dari pemerintah
desa
2.
Pembersihan
sampah dan mengembalikan
fungsi saluran air
3.
Sosialisasi
dari pemerintah desa
4.
Memilah sampah organik
dan non-organik
5.
Mendaur ulang sampah
6.
Penyediaan
tempat penampungan sampah
7.
Saling mengingatkan antara
nggota masyarakat.
Jagalah ekosisitem
dan kelestarian alam kita. karna
“hanya” inilah harta
yang akan diturunkan
kepada anak –cucu kita kelak
! …
b.
Dosakah
Bumi Ini ?
 |
| Gambar. 2. By: (*) |
Gambar.2.
seakan
menjadi
potret
nyata
kerusakan
lingkungan.
Tak
lain
dan
tak
bukan,
bencana
alam
tak
lagi
menjadi
fenomena
langka.
Malahan,
telah
menjadi
sebuah
hal
yang
wajar.
Apakah
ini
salah
Tuhan
? …
Ingat ! Tuhan
hanya
mengingatkan
Kita.
Justru
tangan-tangan
manusialah
yang
kerap
berulah
kekacauan.
Salah
satunya
adalah
“bakat”nya
mencemari
lingkungan.
Di
bawah
ini
adalah
diantara
penyebab
terjadinya
pencemaran
lingkungan,
yaitu :
1.
Tidak tersedianya tempat
penampungan sampah
2.
Tidak sadarnya Si pembuang
akan pentingnya keseimbangan
ekosisitem
3.
Telah menjadi kebiasaan
4.
Tidak adanya hukum
yang mengikat dari pemerintah desa.
Dari beberapa
faktor di atas,
terciptalah banyak akibat
yang mengancam kehidupan
makhluk hidup di sekitar Kita,
baik kini maupun
nanti. Diantaranya :
1.
Sampah menumpuk
2.
Bau menyengat dan tidak sedap
3.
Banyak lalat, ulat,
dan belatung
4.
Terciptanya
lingkungan kumuh (kotor)
5.
Ketidakseimbangan ekosistem
6.
Lenyapnya
cacing sebagai salah satu hewan penyubur tanah
7.
Tanah
kurang subur, kalaupun
ada pohon disekitarnya
saat berbuah kurang
maksimal
8.
Struktur tanah berubah
karena sampah sukar terurai.
Dari masalah
di atas, dapat diambil beberapa
solusi:
1.
Perlunya penegakkan hukum dari pemerintah
desa
2.
Pengembalian
fungsi dan struktur
tanah
3.
Perlunya sosialisasi dari pemerintah desa
4.
Memilah sampah organik
dan non-organik
5.
Bank
sampah untuk mendaur
ulang
6.
Menjadikan
sampah organik sebagai
pupuk kompos
7.
Menjadikan
sampah non-organik sebagai
bahan keterampilan
8.
Perlu tempat penampungan
sampah
9.
Saling mengingatkan antara
nggota masyarakat
10.
Kerjasama
membersihkan tempat yang
terdapat timbunan sampah
Dengan solusi
di atas, kemungkinannya 80%
dapat mengembalikan keseimbangan
ekosistem di bumi
yang semakin tua ini.
c.
Apa Sih Fungsinya
?
 |
| Gambar. 3. By: (*) |
Fungsi
selokan
sesungguhnya
adalah
sebagai
tempat
mengalirnya
air
saat
hujan
tiba.
Namun
masihkah
berlaku
fungsi
itu ?
Saat
ini
selokan
dijadikan
tempat
penampungan
limbah
rumah
tangga
dari
pada
fungsi
aslinya.
Kerusakan
lingkungan
pun
menjadi
hal
yang
umum.
Diantara
beberapa
sebabnya
adalah :
1.
Tidak adanya tempat
pembuangan limbah rumah tangga
2.
Kurang kesadaran
akan
keseimbangan ekosistem
3.
Kebiasaan
berkepanjangan
4.
Tidak adanya peraturan
dari pemerintah desa
Akibat atau dampak pengalihan
fungsi selokan di
atas cukup banyak.
Antara lain :
1.
Bau tidak sedap menyebabkan penyakit
saluran pernafasan
2.
Banyak lalat
3.
Banyak jentik nyamuk
yang bisa menimbulkan
penyakit
4.
Saluran
air tersumbat
5.
Merusak dan mengalihkan
fungs iselokan
6.
Mengotori
selokan
7.
Tidakadanyaganggangsebagaihewan yang
menjadisalahsatupenandasterilnya
air
8.
Menjadikan
airselokantidakjernih.
Untuk mengembalikan fungsi asli selokan secara keseluruhan, ada beberapa tindakan yang
dapat membantu. Diantaranya :
1.
Penegakkan hukum dari pemerintah desa
2.
Pembuatan tempat penampungan limbah rumah tangga
3.
Membersihkan selokan
4.
Sosialisasi atau pengarahan dari pihak desa
5.
Saling mengingatkan antar anggota masyarakat
d.
Gimana Nasibnya
?
 |
| Gambar. 4. By: (*) |
Semestinya
pohon
adalah
sarana
penyerapan
air
hujan.
Namun,
kini
pohon
tak
lagi
mampu
menyerap
banyak
air
karena
jumlahnya
semakin
berkurang.
Hal
ini
menimbulkan
rusaknya
ekosistem.
Beberapa
diantara
penyebabnya
adalah :
1.
Banyak dijadikan bahan bangunan
2.
Dijadikan
lahan baru
3.
Pemanfaatan
pohon secara berlebihan.
Dengan adanya
penyebab di atas maka terciptalah
beberapa akibat yang
mengancam kehidupan di
masa yang akan datang, yakni :
1.
Ketidakseimbangan ekosistem
2.
Lingkungan
kurangasri
3.
Erosi
(perubahan bentuk tanah,
batuan, atau lumpur)
4.
Tidak ada penyerapan
air hujan
5.
Sulit memprediksi musim
6.
Tanah
longsor.
Dari uraian
di atas dapat diambil tindakan
sederhana sebagai solusi,
yakni :
1.
Peraturan
desa
2.
Sosialisasi
PerDes (peraturandesa)
3.
Penegakkan
hukum bagi Si
penebang
4.
Penanaman
kembali (reboisasi)
5.
Menanam pohon yang
cepat tumbuh-besar
e.
Menanam Sampah
 |
| Gambar. 5. By: (*) |
Sampah …… kapan
bersihnya
ya ?
Saat
ini
mungkin
masih
‘sulit
difikir
oleh
logika’
bagaimana
cara
membersihkan
sampah.
Bagaimana
tidak ? Sekarang
ini
manusia
tidak
hanya
menanam
pohon,
tapi
juga
sampah.
Diantara
penyebabnya
adalah :
1.
Sampah
yang lama tidak
‘dibersihkan’ dan terpendam
2.
Kebiasaan
berkepanjangan
3.
Tidak adanya hukum
yang mengikat
4.
Kurangnya
kesadaran masyarakat.
Maka timbullah
akibat-akibat sebagai berikut :
1.
Tanah
tidak subur
2.
Tidak ditemukan cacing
sebagai penyubur tanah
3.
Menghambat
pertumbuhan tanaman
4.
Ketidakseimbangan ekosistem.
Beberapa tindakan
yang bisa dijadikan
solusi adalah :
1.
Peraturan
dan penegakkan hukum
2.
Pengembalian
fungsi tanah
3.
Sosialisasi
4.
Penghentian
mengubur sampah
5.
Saling mengingatkan antara
nggota masyarakat.
JAGALAH
SEGALA SESUATU YANG
MERUPAKAN KEKUASAAN ILAHI !!!
(*) Al Madaliyatul Asatidz