Penyusun
Kelompok l
Anggota :
1.
Amanah Febriani
2.
Bejo Susilo
4.
Maniyyatul Qudsiyyah
5.
Miftahul Ulumiyah
6.
Reni Septiani
7.
Tri Mundari
8.
Reni Wijaya
Ustman bin Affan
Dilahirkan pada tahun ke 5, tepatnya pada tahun gajah. Beliau memeluk
agama Islam atas seruan Umar bin
Khattab. Sebelum memeluk agama Islam,
beliau
terkenal sebagai saudagar
yang kaya raya, dermawan,
dan
mempunyai kepribadian yang terpuji.
Setelah
memeluk Islam, beliau curahkan harta bendanya itu untuk kepentingan
perjuangan dakwah Islam.
Rasulallah hendak mengadakan
Jaisyul-Usrah pada
saat Ustman mendermakan
950 ekor unta, 59
ekor
kuda dan 1000 dinar
untuk keperluan bala tentara kaum muslimin.
Rasulullah pernah
besabda:
“Setiap
Nabi mempunyai teman, dan
teman Saya di
surga adalah Ustman”.
Karena dengan Rasulullah
sangat dekat sekali, maka
Ustman bin Affan dinikahkan oleh Rasulullah dengan
putrinya yang bernama
Ruqayyah. Setelah Ruqayyah meninggal, pada saat terjadi perang
Badar, kemudian Ustman
dinikahkan dengan adik Ruqayyah,
yaitu Ummu Kultsum. Sedangkan Ummu Kultsum wafat pada tahun9 H, oleh
karenanya Ustman dijuluki
Dzu-nurain (orang yang mempunyai duacahaya).
Kemudian Rasulullah
besabda kepada Ustman:
“Andai kata Aku masih mempunyai
putri, pasti akan Aku nikahkan lagi Kau dengan
putriku yang lain”.
A.
Ustman bin Affan
Sebelum Masuk Islam
Ustman bin Affan adalah
seorang pedagang yang sukses.
Dan berhasil
sukses karena ketekunan
serta kemurahan hatinya
dalam berdagang. Saat usianya
masih muda, beliau sudah berdagang
ke negeri Syam dan Hirrah. Pada
waktu itu negeri
Syam masih dijajah
kerajaan Romawi, sedangkan
Hirah merupakan jajahan
Persia. Dengan pengalaman
berdagangnya, beliau memiliki
kekayaan dan sahabat
yang banyak.
B.
Ustman bin Affan Setelah
Masuk Islam
Sebelum masuk Islam, tidak banyak yang diketahui Ustman
bin Affan tentang
kepribadian nabi Muhammad SAW. Dan
itupun
diketahui dari orang lain. Kejujuran dan cara Nabi Muhammad
memimpin
umat adalah salah satu sifat yang
diketahui oleh Ustman.
Suatu hari Ustman
ingin bertemu Nabi SAW.
Kemudian
keinginan itu disampaikan
kepada sahabatnya, yaitu Abu
Bakar. Abu Bakar banyak bercerita
tentang kepribadian Nabi SAW.
Diantaranya menerangkan
kenabian dan kerasulan
Nabi Muhammad SAW. Setelah
mendapatkan berita yang dirasa cukup, kemudian Ustman
menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan
Rasulullah kepada Abu Bakar.
Setelah
diajak bertemu dan berbincang-bincang dengan
Rasulullah akhirnya Ustman
bin Affan masuk Islam.
Secara sembunyi-sembunyi, Ustman
menceritakan keislamannya kepada
para saudagar dan teman kerabatnya.
Banyak dari mereka yang tertarik dan kemudian masuk Islam. Angkatan
pertama yang masuk Islam dari mereka disebut
as-Sabiqunal Awwalun,
mereka senantiasa dicemooh, disiksa, dan ditakut-takuti oleh kafir Quraisy.
Walaupun demikian, mereka (as-SabiqunalAwwalun) tetap tabah,
sabar dan mempertahankan iman mereka. Pada fase ini (setelah masuk Islam) pula, Ustman dinikahkan dengan
Ruqayyah (putri Rasulullah) oleh Rasulullah.
C.
Ustman bin Affan menjadi
khalifah
Ketika Umar bin Khattab
meninggal, kaum muslimin bingung
siapakah yang menjadi
penggantinya menjadi khalifah.
Setelah melalui
beberapa tahap, akhirnya Ustman
terpilih menjadi khalifah
menggantikan Umar bin Khattab. Bai`at
pun diucapkan
oleh Ustman di depan khalayak
umum.
D.
Perjuangan Khalifah
Ustman bin Affan
Selama menjabat sebagai
Khalifah, Ustman bin Affan menumpas pendurhakaan
dan pemberontakan yang
terjadi di beberapa
daerah kekuasaan Islam
dan melanjutkan perluasan
wilayah ketempat-tempat yang
belum menganut agama
Islam.
Ketika menghadapi bangsa
Romawi, Khalifah
Ustman bin Affan mengirimkan tentaranya
dengan kekuatan besar dan perlengkapan
yang cukup untuk membebaskan kembali
daerah Iskandariah dan Khurasan yang
sebelumnya sempat dikuasai
oleh tentara Romawi.
Berkat ketangguhan kaum Muslimin ketika
bertempur, maka mereka
memperoleh kemenangan.
E.
Membukukan al-Qur`an
Abu Bakar pada masa kekhalifahannya telah berjasa mengumpulkan
ayat-ayat al-Qur`an yang
masih berserakan ; yang
ditulis pada tulang-belulang, pelepah-pelepahkurma, dan
lain-lainnya hingga kemudian
dijadikan satu.
Sedangkan pada masa pemerintahan khalifah
Ustman, salah satu jasanya adalah
membukukan ayat-ayat Allah
yang telah dikumpulkan
oleh Abu Bakar tadi. Pokok alasannya, karena
luasnya wilayah kekuasaan
Islam dan banyaknya
terjadi perbedaan bacaan
dan tulisan al-Qur`an
dikalangan kaum Muslimin.
Khalifah Ustman bin
Affan memerintah Zaid
bin Tsabit untuk mengoreksi kembali
al-Qur`an baik dari segi huruf,
bacaan maupun lainnya,
setelah itu dijadikan
satu mushaf. Pada saat itu Zaid bin
Tsabit berhasil membuat
lima mushaf. Masing-masing
dikirim ke :
1)
Makkah = 1 mushaf
2)
Syam =
1 mushaf
3)
Bashrah =
1 mushaf
4)
Kufah =
1 mushaf
5)
Madinah =
1 mushaf
Dan yang
di Madinah ini dikenal sebagai
mushaf “al-Amin”.
F.
Akhir
Hayat Sang Khalifah
Banyak tahanan yang
kabur dari penjara.
Menurut para sahabat
yang berkubu
oposisi, hal ini disinyalir karena
khalifah Ustman kurang
tegas (sifat lemah lembut dan penuh toleransi
yang dimiliki khalifah
Ustman).
Oleh karenanya, sebagian
sahabat mengusulkan Sang
Khalifah mengundurkan diri.
Hal ini bukan berarti mereka
berambisi menjadi khalifah,
namun khawatir akan terjadi kekacauan
dikalangan umat Islam.
Akan tetapi, khalifah
Ustman menolak usulannya.
Kekacauan pun semakin meluas hingga Irak,
Iran, dan Mesir.
Sementara Abdullah
bin Saba seorang
tokoh Yahudi yang
memeluk Islam, mengadu
domba dan menyebar
fitnah. Sehingga timbullah
kebencian dikalangan kaum muslimin terhadap
Khalifahnya. Puncaknya, kekacauan
ini menimbulkan pemberontakan
yang didukung oleh beberapa sahabat
terkemuka. Diantaranya adalah,
Abu Dzar al-Ghifari,
Ammar bin Yasir,
dan Abdullah bin
Mas`ud.
Mereka menuntut agar
khalifah Ustman bin Affan meninggalkan
jabatannya. Sahabat Ali
bin Abi Thalib
dan dua putranya,
yaitu Hasan dan
Husain serta para sahabat yang
masih setia kepada
khalifah Ustman bangkit
menghadang para pemberontak.
Namun pemberontak sangat
kuat kekuatannya dan tak terbendung.
Diantara para pemberontak
yang hanya ingin
Sang Khalifah turun dari jabatannya,
ada seorang penyusup
yang ingin membunuh
khalifah Ustman. Khalifah
Ustman pun terbunuh
bersama seorang pemuda
yang berusaha melindungi
khalifah Ustman.
Ustman bin Affan wafat pada tahun 35
H (656 M)
setelah memangku jabatan
sebagai Khalifah selama
11 tahun. Atau genap berusia
81 tahun.