Trikotomi, Hulu-hilir Politik Indonesia
Emha S. Asror
Beranjak
dari kenyataan bahwa hubungan antar Islam dan politik Indonesia memiliki
sejarah yang amat panjang, patut disayangkan bahwa diskursus teoritis
mengenainya berkembang baru sepanjang empat dekade belakangan ini saja.
Terlepas
dari awal mulainya yang belum lama itu, sedikitnya terdapat lima pendekatan
teoritis dominan yang pengaruhnya, hingga tingkat tertentu, masih terasa dewasa
ini. Pertama, teori dekonfessionalisasi Islam. Kedua, teori domestikasi
Islam. Ketiga, teori pengelompokkan mazhab atau aliran. Keempat,
perspektif trikotomi. Dan kelima, Islam kultural.
Dalam
hal ini penulis sedikit banyak hanya akan menjelaskan teori Geertz atau teori
keempat, yang ada di dalam bukunya The Religion of Java, perspektif
trikotomi.
Agama
menurut Geertz, bukan saja kepercayaan formal yang jumlahnya menurut sekelompok
agama tertentu hanya tiga atau empat saja, Kristen, Yahudi, Islam, atau
Shabiun. Dalam bukunya ini, agama memiliki cakupan makna yang lebih luas,
kepercayaan terhadap sesuatu.
Dalam
prakteknya, kepercayaan kerapkali mempengaruhi perilaku seseorang bahkan
masyarakat luas. Penelusurannya tentang perilaku masyarakat yang didorong atas
kepercayaan tertentu menghasilkan tiga golongan masyarakat, Abangan, Santri,
Priyayi. Menurutnya, penggolongan kelompok ini dilakukan oleh orang Jawa
terhadap diri mereka sendiri.
Dengan
berbagai variabel dan dinamika hubungan di antara golongan mereka bukan saja
menghasilkan konflik-konflik yang tajam, tetapi integrasi sosial yang saling
mengikat dan saling membutuhkan satu sama lain.
Awalnya,
timbulnya konflik di antara golongan-golongan di atas penyebabnya hanyalah
perbedaan kelas sosial. Kemudian berlanjut ke wilayah agama, hingga berlanjut
ke arah pandangan politik.
Dalam
pandangan politik, Abangan cenderung kiri dengan ditandai bergabungnya
mereka ke barisan partai komunis. Adapun Santri tidak tertarik terhadap
pandangan nasionalisme dangan mendirikan partai-partai Islam yang beraliran
kanan. Sedangkan golongan yang terakhir, Priyayi, lebih berpandangan
nasionalisme dengan kemunculan salah seorang dari mereka menjadi pemimpin PNI
pasca revolusi.
Namun,
dengan uraian yang sangat sederhana di atas, yang paling penting dalam buku
Geertz ini sebenarnya, menurut penulis, adalah agama itu memiliki sifat
ambivalen dalam masyarakat; penguat integrasi sekaligus pemicu konflik. Dari
situ banyak orang curiga kalau trikotomi Geertz merupakan desain ilmiah untuk
memecah belah integrasi sosial masyarakat Jawa.
Selain
itu, walaupun dia tidak menyatakannya secara tegas, dalam analisanya ini arah
politik Indonesia menjadi sangat jelas hilirnya ketika melihat partai-partai
yang ada saat ini, dengan kepercayaan sebagai hulunya, dan tiga golongan
masyarakat di atas menjadi bahteranya.
Bukan
hanya itu, paling tidak trikotominya ini mampu menjelaskan trokotomi Weber.
Sebagai salah satu paham yang dianutnya, yang saat itu dia belum bisa
memberikan fakta mengenai trikotomi.
