solidgreat

Pages

Jumat, 03 April 2015

Antropologi Agama



Trikotomi, Hulu-hilir Politik Indonesia
Emha S. Asror

Beranjak dari kenyataan bahwa hubungan antar Islam dan politik Indonesia memiliki sejarah yang amat panjang, patut disayangkan bahwa diskursus teoritis mengenainya berkembang baru sepanjang empat dekade belakangan ini saja.

Terlepas dari awal mulainya yang belum lama itu, sedikitnya terdapat lima pendekatan teoritis dominan yang pengaruhnya, hingga tingkat tertentu, masih terasa dewasa ini. Pertama, teori dekonfessionalisasi Islam. Kedua, teori domestikasi Islam. Ketiga, teori pengelompokkan mazhab atau aliran. Keempat, perspektif trikotomi. Dan kelima, Islam kultural.

Dalam hal ini penulis sedikit banyak hanya akan menjelaskan teori Geertz atau teori keempat, yang ada di dalam bukunya The Religion of Java, perspektif trikotomi.

Agama menurut Geertz, bukan saja kepercayaan formal yang jumlahnya menurut sekelompok agama tertentu hanya tiga atau empat saja, Kristen, Yahudi, Islam, atau Shabiun. Dalam bukunya ini, agama memiliki cakupan makna yang lebih luas, kepercayaan terhadap sesuatu.

Dalam prakteknya, kepercayaan kerapkali mempengaruhi perilaku seseorang bahkan masyarakat luas. Penelusurannya tentang perilaku masyarakat yang didorong atas kepercayaan tertentu menghasilkan tiga golongan masyarakat, Abangan, Santri, Priyayi. Menurutnya, penggolongan kelompok ini dilakukan oleh orang Jawa terhadap diri mereka sendiri.

Dengan berbagai variabel dan dinamika hubungan di antara golongan mereka bukan saja menghasilkan konflik-konflik yang tajam, tetapi integrasi sosial yang saling mengikat dan saling membutuhkan satu sama lain.

Awalnya, timbulnya konflik di antara golongan-golongan di atas penyebabnya hanyalah perbedaan kelas sosial. Kemudian berlanjut ke wilayah agama, hingga berlanjut ke arah pandangan politik.

Dalam pandangan politik, Abangan cenderung kiri dengan ditandai bergabungnya mereka ke barisan partai komunis. Adapun Santri tidak tertarik terhadap pandangan nasionalisme dangan mendirikan partai-partai Islam yang beraliran kanan. Sedangkan golongan yang terakhir, Priyayi, lebih berpandangan nasionalisme dengan kemunculan salah seorang dari mereka menjadi pemimpin PNI pasca revolusi.

Namun, dengan uraian yang sangat sederhana di atas, yang paling penting dalam buku Geertz ini sebenarnya, menurut penulis, adalah agama itu memiliki sifat ambivalen dalam masyarakat; penguat integrasi sekaligus pemicu konflik. Dari situ banyak orang curiga kalau trikotomi Geertz merupakan desain ilmiah untuk memecah belah integrasi sosial masyarakat Jawa.

Selain itu, walaupun dia tidak menyatakannya secara tegas, dalam analisanya ini arah politik Indonesia menjadi sangat jelas hilirnya ketika melihat partai-partai yang ada saat ini, dengan kepercayaan sebagai hulunya, dan tiga golongan masyarakat di atas menjadi bahteranya.

Bukan hanya itu, paling tidak trikotominya ini mampu menjelaskan trokotomi Weber. Sebagai salah satu paham yang dianutnya, yang saat itu dia belum bisa memberikan fakta mengenai trikotomi.