solidgreat

Pages

Sabtu, 12 Maret 2011

(politik) PEMERINTAH ANTI REZIM

(politik)
PEMERINTAH ANTI REZIM
Dalam tulisan ini saya mencoba untuk merumuskan pendekatan terhadap aksi sosial dan politik dengan berpedoman pada doktrin-doktrin islam. Saya kira saya tidak menulis tentang islam, juga tidak menulis secara teliti tentang filsafat politik islam, akan tetapi saya berupaya untuk membuat ringkasan (ikhtisar) dalam mendiskusikan masalah-masalah kontemporer. Sebuah pendekatan yang belum diteliti begitu jauh oleh para teoretisi politik.
Dalam islam tidak ada suatu ukuran pasti tentang bagaimana mengatur suatu tata Negara (politik pemerintah). Islam tidak bisa lepas dari politik, politik dalam islam harus bersifat transformatif, islam harus melakukan differensiasi, islam harus bisa merubah tatanan masyarakat lewat risalah nabi Muhammad SAW. Yang sangat transformatif, demokratif dan emansipatif.
Demokrasi sangat penting dalam konteks memberdayakan masyarakat dalam arti memberi peluang kepada masyarakat untuk menyatakan pendapat dan pikirannya secara jujur agar terciptanya keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran yang merupakan cita-cita etis setiap agama, sekaligus merevitalisasi humanisme.
Akhir –akhir ini banyak dari berbagai Negara jazirah arab dan sebagian dari beberapa Negara dari benua Afrika melakukan demo(unjuk rasa). Aksi tersebut menentang kepada para pemimpin Negara mereka yang rezim-diktator. Demonstran menuntut agar pemimpin yang mereka anggap rezim-diktator. Karena, rakyat merasa terjajah bahkan mereka merasa terhina ketika hidup dibawah rezim-diktator bangsa sendiri dan mereka juga merasa ditipu serta diperlakukan tidak adil oleh pemimpin negaranya. Dari pihak pemerintah sendiri tidak ingin diturunkan secara tiba-tiba dengan alasan permintaan rakyat(demonstran) tidak masuk akal.
Kerezim-diktatoran bukan hanya menyebabkan kerusuhan, kekerasan dan kekerasan klimaks(peperangan). Akan tetapi, juga dapat mempengaruhi perekonomian Negara. Jika semuanya telah terjadi , maka hal demikian bisa dikatakan Negara gagal.
Persoalan yang terjadi diberbagai Negara jazirah arab dan sebagian dari beberapa Negara benua afrika sangatlah akumulatif, karena berkaitan dengan satu sama lain. Seperti isu politik kampungan, sistem pemerintah yang rezim-diktator, sosial-budaya, instbilitas ekonomi, penindasan terhadap rakyatnya sendiri serta membiarkan mereka hidup dalam ketimpangan sosial-ekonomi hingga menyebabkan kemiskinan yang parah.
Lebih parahnya persoalan yang terjadi diatas didasari oleh materialisme, egois, ambisi yang meledak-ledak untuk bisa mendapatkan sebuah kedudukan dan ketamakan yang mengontrol perilakunya. Pemerintah yang seharusnya memberikan peluang kepada rakyat untuk beraspirasi, memberikan hak-hak kepada rakyatnya malah menyelewengkan amanat dari rakyatnya juga memperkosa hak-hak rakyatnya secara membabi-buta, keberkuasaan absolute yang tidak mau mengerti kebutuhan rakyatnya.
Allah SWT telah berfirman ; ” Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, mengerjakan kebaikan, bermurah hati kepda kerabat dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, munkar dan kekejaman ……….”. (QS. an-Nahl: 90).
Tidaklah begitu perlu untuk mengorek lebih dalam lagi kedalam tafsir ayat tersebut. Akan tetapi dapatlah disimpulkan bahwa sebagai pemimpin haruslah bersifat adil, lebih demokrasi, berkedaulatan hukum, lebih santun pada pluralitas dan menjaga persamaan diantara umat manusia. Konsep pemerintahan yang disodorkan oleh islam adalah konsekuensi wajar terhadap kedaulatan Allah SWT atas kekayaan material dan kekuasaan yang diberikan terhadap mahluknya.
Seharusnya kekuasaan dan kekayaan bukan digunakan untuk individu, akan tetapi islam mengajarkan kekuasaan dan kekayaan digunakan untuk menciptakan pribadi luhur, menyempurnakan ibadah dan membangun iman yang berkualitas.
Namun, apabila sebaliknya pemerintah telah melakukan tindak kriminal, membuat kekacauan,nepotisme dan penindasan, maka rakyat diperbolehkan untuk membela diri sebagaimana firman Allah SWT ; ” Telah diizinkan (berperang) bagi orang –orang yang diperangi , karena sesungguhnya mereka telah di aniaya….”.(QS. al- Hajj:39).
Iqbal telah memproduksi terjemahan puisi Ziya dalam versi turki yang menyatakan; “ untuk bisa menciptakan kesatuan politik yang betul-betul efektif dalam islam,seluruh Negara muslim pertama-tama harus menjadi merdeka, dan setelah itu dalam totalitas mereka harus menata diri dibawah satu kekhalifahan”.
Sumber :
1. Al-Qur’an Terjemah
2. Tabayun Gus Dur
3. Islam tanpa kekerasan
4. Harian kompas
5. Muhammad Iqbal, the reconstruction of religious thought islam.